Minggu, 25 September 2011

hubungan pengetahuan tentang penyakit rematik dengan penanganan rematik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Sejalan dengan semakin meningkatnya usia seseorang, maka akan terjadi perubahan-perubahan pada tubuh manusia. Perubahan-perubahan tersebut terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan rematik (Fitriani, 2009)
Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan tulang atau jaringan penunjang sekitar sendi, golongan penyakit ini merupakan penyakit Autoimun yang banyak di derita oleh kaum lanjut usia (usia 50 tahun ke atas), (Junaidi, 2006). Penyakit ini lebih sering terjadi pada perempuan dan biasanya menyerang orang yang berusia lebih dari 40 tahun (Arif Muttaqin, 2008). Rematik terutama menyerang Sendi-sendi, tulang, ligamentum, tendon dan persendian pada laki-laki maupun perempuan dengan segala usia.
 Dampak dari keadaan ini dapat mengancam jiwa penderitanya atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan, dan masalah yang disebabkan oleh penyakit rematik tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas hingga terjadi hal yang paling ditakuti yaitu menimbulkan kecacatan seperti kelumpuhan dan gangguan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta Resiko tinggi terjadi cidera(Kisworo, 2008)
Angka kejadian rematik pada tahun 2008 yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO adalah mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang rematik, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun (Wiyono, 2010). Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al 2008, prevalensi nyeri rematik di Indonesia mencapai 23,6% hingga 31,3%, angka ini menunjukkan bahwa nyeri akibat rematik sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia. Berdasarkan pusat data BPS Provinsi Jawa Timur, Rematik merupakan salah satu penyakit terbanyak yang di derita oleh kaum lansia yaitu pada tahun 2007 sebanyak 28% dari 4.209.817 lansia menderita penyakit rematik (Smart, 2010). Sedangkan di Kota Malang sendiri di dapatkan bahwa jumlah penderita penyakit rematik mencapai 7.179 kasus di Rumah Sakit dan 33.985 kasus di Puskesmas pada tahun 2008 (Wiyono, 2010)
Pada bulan Mei 2011 peneliti melakukan Studi Pendahuluan di Rw 03Kelurahan Pandanwangi Kota Malang didapatkan Jumlah total lansia 106 jiwa data diperoleh dari kelurahan, kemudian peneliti melakukan wawancara langsung dari 20 orang lansia yang mengatakan memiliki penyakit rematik, 25% orang diantaranya mengerti tentang penyakit rematik, sebab ketika ditanya tentang pengertian penyakit rematik mereka menjawab,penyakit rematik adalah penyakit nyeri dan peradangan pada persendian,dan untuk penanganan mereka langsung memeriksakan diri ke puskesmas setempat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga medis yang ada, sedangkan 75% orang lainnya mengatakan tidak mengerti tentang penyakit rematik dan bagaimana penanganan yang benar. Mereka mengatakan menggunakan param kocok dan jamu rematik yang dijual bebas di warung dekat tempat tinggal mereka, bahkan ada yang membiarkannya begitu saja dengan anggapan akan sembuh dengan sendirinya.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Hubungan pengetahuan lansia tentang penyakit rematik dengan penanganan  lansia terhadap penyakit rematik di Desa Pandanwangi RW.03 Kelurahan Pandanwangi”.

1.2            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : ”Adakah hubungan antara pengetahuan lansia tentang rematik dengan penanganan lansia terhadap penyakit rematik di Desa Pandan Wangi RW.03 Kelurahan Pandanwangi?”.

1.3            Tujuan Penelitian
1.3.1      Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan lansia tentang rematik dengan penanganan lansia terhadap penyakit rematik di Desa Pandan Wangi RW.03 Kelurahan Pandanwangi.
1.3.2      Tujuan Khusus
1.     Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang rematik.
2.     Mengidentifikasi penanganan rematik pada lansia.
3.     Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan lansia tentang penyakit rematik dengan penanganan lansia terhadap penyakit rematik.

1.4            Manfaat Penelitian
1.4.1      Bagi Lahan Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan suatu kontribusi bagi Puskesmas setempat yang bisa dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi lansia.
1.4.2      Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sabagai masukan data untuk melakukan upaya-upaya dalam peningkatan pemberian pengetahuankepada mahasiswa-mahasiswi dalam bidang kesehatan khususnya  tentang penyakit rematik pada lansia.
1.4.3      Bagi Peneliti
Dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam mengaplikasikan teori-teori yang didapat dalam bentuk penelitian.
1.4.4      Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan rematik pada lansia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulis akan mengemukakan teori – teori berdasarkan kepustakaan yaitu membahas mengenai konsep pengetahuan, konsep lansia, konsep rematik, serta kerangka konsep.

2.1            Konsep Pengetahuan
2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indra. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan alat indra atau akalnya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat, didengar dan dirasakan sebelumnya (Mahmud, 2010).
Secara umum pengetahuan dalam psikologi dibagi menjadi dua yaitu :
1.         Pengetahuan Deklaratif adalah pengetahuan bahwa sesuatu itu meliputi semua data serta fakta, pengetahuan teoritis, pengalaman pribadi dan kesukaan pribadi.
2.         Pengetahuan Prosedural adalah mengenai cara melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu (Mahmud, 2010)
2.1.2        Kriteria Tingkat Pengetahuan
5
 
Menurut Arikunto (2003) dalam buku  Wawan (2010) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
1.         Pengetahuan  baik        :   76 % – 100%
2.         Pengetahuan Cukup     :   56 %    75 %
3.         Pengetahuan Kurang   :   < 56
2.1.3        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
1.         Faktor Internal
a.          Umur
Menurut Elisabeth B. Hurlock usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Hurlock semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya daripada orang yang belum tinggi kedewasaannya (Wawan, 2010). Menurut Hurlock, tahapan lanjut usia ada dua tahap, yaitu :
1)        Early old age (usia 60-70 tahun)
2)        Advanced old age (usia >70 tahun)(Kusharyadi, 2010)
b.         Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan dalam membuat kombinasi, berpikir abstrak, ataupun kemampuan menentukan kemungkinan dalam perjuangan hidup. J.P. Chaplin mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru secara cepat dan efektif serta memahami berbagai interkonektif dan belajar dengan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif (Peter dkk, 2010).
c.          Alat Indera
Untuk mengamati sesuatu harus mempunyai perhatian pada objek yang diamatinya. Bila individu telah memperhatikan, selanjutnya individu menyadari sesuatu yang diperhatikan itu, atau dengan kata lain individu mengamati, mendengarkan serta merasakan apa yang dilihatnya, didengarnya, dirabanya, dan sebagainya, maka seseorang dapat melihat dengan matanya mendengar melalui telinganya tetapi itu bukanlah satu-satunya bagian hingga individu dapat mengamati apa yang dilihatnya atau didengarnya. Mata dan  telinga hanyalah merupakan alat indra  atau bagian yang menerima stimulus dan stimulus ini dilangsungkan saraf sensoris, sehingga individu menyadari apa yang dilihat maupun didengar (Ahmadi, 2009).
2.         Faktor Eksternal
a.          Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat  (Anneahira, 2008). Menurut Philips N. Coombs (1973) dalam Fuad Ikhsan (2005) mengklasifikasikan pendidikan ke dalam tiga bagian yaitu pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal :
1)        Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dan lingkungan. Kedudukannya setara dengan pendidikan formal dan nonformal
2)        Pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang teratur, sistematis, mempunyai jenjang dan yang dibagi dalam waktu-waktu tertentu yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
3)        Pendidikan non formal adalah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar kegiatan pra sekolah. Dalam hal ini, tenaga pengajar, fasilitas, cara penyampaian dan waktu yang dipakai, serta komponen-komponen lainnya disesuaikan dengan keadaan peserta didik supaya mendapatkan hasil yang memuaskan (Ikhsan, 2005).
b.         Informasi
Informasi adalah keterangan yang disampaikan oleh seseorang atau badan atau keseluruhan makna yang menunjang peran yang terlihat di bagian-bagian pesan itu atau penerangan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat  mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.  Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal  memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Sunaryo, 2004).
c.          Pengalaman
Pengalaman adalah guru terbaik karena kita adalah aktornya, pepatah ini mengandung maksud pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan. Belajar dari pengalaman yang telah kita alami dan rasakan. Diri kita tidak akan pernah pandai kalau ternyata sebuah pengalaman pahit tidak bisa menjadi sebuah pelajaran (Mahmud, 2010).
d.         Lingkungan
Lingkungan merupakan semua kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang dan kelompok (Nursalam, 2008).
2.1.4        Proses Adopsi Perilaku
Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku-perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang terjadi proses yang berurutan, yaitu :
1.         Awareness (Kesadaran)
       Orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
2.         Interest
       Orang mulai tertarik kepada stimulus.
3.         Evaluation
       Menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
4.         Trial
       Orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5.         Adoption
       Subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku mulai proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2007).
2.1.5        Tingkat Pengetahuan
Benyamin S. Blom telah mengembangkan ”Taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah metode untuk membuat urutan pemikiran dari dasar kearah yang lebih tinggi dari kegiatan mental dengan 6 tahap berikut:
1.         Pengetahuan (Knowledge) adalah kemampuan untuk menghafal, mengingat, atau mengulangi informasi yang pernah diberikan.
2.         Pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan untuk menginterpretasi  atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri.
3.         Aplikasi (Application) adalah kemampuan menggunakan informasi, teori dan aturan pada situasi baru.
4.         Analisis (Analisys) adalah kemampuan untuk mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai bagian-bagian serta hubungannya.
5.         Sintesis (Synthesis) adalah kemampuan mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru.
6.         Evaluasi (Evaluation) adalah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.(Mohamad, 2010 ).
2.1.6        Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut(Notoatmodjo,2007) dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran, pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua :
2.1.6.1Cara Tradisional
1.    Cara coba-coba salah
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan bahkan mungkin sebelum adanya perubahan yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil di coba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
2.    Cara kekuasaan (Otoritas)
Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal, ahli agama ataupun pemegang pemerintah. Prinsipnya adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang memppunyai otoritas tanpa terlebih dahulu membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris maupun berdasarkan penalaran.
3.    Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukajn dengan cara mengulang kembali pengembalian yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
4.    Melaui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik melalui induksi maupun deduksi apa bila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan khusus kepada acuan di induksi, sedangkan deduksi : pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum kepada yang khusus.
2.1.6.2 Cara Modern
Modern yang menggunakan cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau populasi disebut metodologi

2.2            Konsep Lansia
2.2.1   Pengertian Lansia
Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai ”usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun.
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia (Akhmadi, 2009).
Ada empat tahapan lansia menurut WHO, yaitu:
1.         Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
2.         Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun
3.         Lanjut usia tua (very old) usia 75-90 tahun
4.         Usia sangat tua (very old) >90 tahun..(Kusharyadi, 2010)
2.2.2   Teori Penuaan
Menjadi tua adalah suatau proses natural dan kadang- kadang tidak tampak mencolok. Konsep lansia di bagi menjadi beberapa teori di antaranya :
1.         Teori Penuaan
Ada empat asumsi dasar yang harus diperhatikan dalam mempelajari lansia. Empat asumsi dasar itu sebagai berikut:
a.     Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang.
Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Seseorang dengan usia kronologis 70 tahun mungkin dapat memiliki usia fisiologis seperti orang usia 50 tahun.
b.     Peningkatan jumlah lansia merupakan hasil dari perkembangan ilmu dan teknologi abad ke-20.
Menurut ahli gerontology, James Birren, bertambahnya umur harapan hidup seseorang merupakan hasil dari perkembangan di bidang kedokteran dan terhadap penyakir ganas, teknik dan alat bedah/ operasi modern, serta teknik dan alat diagnosis.
c.     Penuaan alamiah/ fisiologis harus dibedakan dari penuaan patologis.
Penurunan fungsi tidak hanya disebabkan factor penuaan, tetapi juga disebabkan oleh factor patologis. Penurunan fungsi karena patolagis bukan penuaan yang normal.
d.    Tidak satu teori pun mampu menjelaskan penuaan secara universal.
Meskipun penuaan merupakan proses yang universal, tidak seorang pun mengetahui penyebabnya atau mengapa manusia menjadi tua pada usia yang berbeda – beda.
2.         Teori Genetik.
a.     Teori Hayflick.
Menurut studi Hayflick dan Moorehead(1961), Penuaan disebabkan oleh berbagai factor, antar lain perubahan fungsi sel, efek komulatih dari tidak normalnya sel, dan kemunduran sel dalam organ dan jaringan.
b.     Teori Kesalahan.
Bahwa kesalahan dalam proses atau mekanisme pembuatan protein akan mengakibatkan beberapa efek. Penurunan ketepatan sintesis protein secara spesifik telah dihipotesiskan penyebabnya, yaitu ketidaktepatan dalam penyiapan pasangan kodon mRNA dan antikodon tRNA.
c.     Teori DNA lewah (kelebihan DNA)
Medvedev (1972) mengemukakan teori yang berhubungan dengan teori kesalahan. Bahwa perubahan usia biologis merupkan hasil akumilasi kesalahan dalam memfungsikan gen. Perbedaan usia mahluk hidup mungkin merupakan suatu fungsi dari tingkat urutan genetik berulang (repeated genetic sequences).
d.    Teori rekaman
Tahap awal dalam pemindahan informasi dari DNA ke sintesis protein. Dengan peningkatan usia terjadi perubahan yang sifatnya merusak metabolism posmitotik cells yang berbeda. Perubahan merupakan hasil dari kejadian primer yang terjadi pada inti kromatin. Perubahan itu terjadi dalam inti kromatin kompleks, merupakan suatu mekanisme control yang bertanggung jawab terhadap penampilan dan urutan penuaan primer. Mekanisme control itu meliputi regulasi transkripsi meskipun regulasi lain dapat terjadi.
3.         Teori Nongenetik.
a.     Teori radikal bebas.
Pada dasarnya radikal bebas ion bermuatan listrik yang berada diluar orbit dan berisi ion tak berpasangan. Radikal bebas mampu merusak membrane sel, lisosom, mitokondria, dan inti membrane melalui reaksi kimia yang disebut peroksidasi lemak.
b.     Teori autorium
Menurut teori autorium, penuaan diakibatkan oleh antibody yang bereaksi terhadap sel normal dan merusaknya.  Reaksi itu terjadi karena tubuh gagal mengenal sel normal dan memproduksi antibody yang salah. Akibatnya, antibody itu bereaksi terhadap sel normal, di samping sel abnormal yang menstimulasi pembentukannya.
c.     Teori Hormonal.
Menurut Donner Denckle menyatakan didasar studi hipotiroidisme. Hipotirodisme dapat menjadi fatal apabila diobati dengan tiroksin sebab seluruh manifestasi dari penuaan akan Nampak seperti penurunan system kekebalan, kulit keriput, uban, dan penurunan proses metabolism secara perlahan.
d.    Teori Pembatasan energy .
Menurut Roy Walford adalah menganut kuat diet yang berdasarkan pada batasan kalori, yang dikenal sebagai pembatasan energy. Diet nutrisi tinggi yang rendah kalori berguna untuk meningkatkan fungsi tubuh agar tidak cepat tua.(Nugroho,2003)
2.2.3   Perubahan Fisiologi pada Lansia
1.         Sel
Lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukuranya jumlah caiaran tubuh dan berkurangnya cairan intraselular. Menurunya proporsi protein di otak, otot ginjal, darah dan hati. Jumlah sel otak menurun,terganggu mekanisme perbaikan sel. Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
2.         Sistem Pernafasan.
Berat otak menurun 10-20%, kecepatan otak semakin menurun dan lambanya dalam respond an waktu untuk bereaksi, khususnya stress. Mengecilnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium dan perasa,lebih rendahnya ketahanan terhadap dingin dan kurang sensitive terhadap sentuhan.
3.         Sistem Pendengaran.
Presbiakusis adalah hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata. Ini terjadi kebanyakan pada umur 65 ke atas. Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis. Terjadi pengumpulan cerumen dapat mengeras meningkatin keratin.
4.         Sistem Penglihatan
Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. Kornea lebih terbentuk sferis, lensa lebih suram menjadi katarak dan pasti menyebabkan gangguan pengliatan.Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adapatasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
5.         Sistem Kardiovaskuler.
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Kehilangan elastisitas pembuluh darah kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk bias menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg. Tekanan darah meninggi di akibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolis normal 170 mmHg, Diastole normal 90 mmHg.
6.         Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.
Pada pengaturan suhu hipotalmus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu suhu terentu, kemunduran terjadi berbagi factor yang mempengaruhi.
7.         Sistem Respirasi
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku dan menurunnya aktivitas dari silia. Paru-paru kehilangan elastisitasnya: kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan menurun dan kedalaman bernafas menurun. Alveoli ukuranya melebar dari biasanya berkurang dan kemampuan pegas, dinding, dada dan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertabahan.

8.         Sistem Gastrointestinal.
Pada indera pengecap menurun sehingga terjadi iritasi yang kronis dari selaput lendir dan hilangnya sensitifitas dari sarap pengecap tentang rasa sin, asam, dan pahit. Esofagus melebar, peristaltic lemah biasnya timbul konstipasi.
9.         Sistem Genitourinaria.
Menurunya alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ginjal di saring oleh satuan dari ginjal yang disebut nefron. Kemudian mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun. Vesika urinaria otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air air seni meningkat. Vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibat meningkatnya retensi urin.
10.     Sistem Endokrin.
Produksi dari hamper semua hormone menurun sedangkan fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah. Pertumbuhan hormone ada tetapi rendah dan hanya di dalam pembuluh darah. Menurunya sekresi hormone kelamin misalnya: progesterone, estrogen dan testeron.
11.     Sistem Kulit.
Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan leamk. Permukaan kulit kasar (karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis). Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu. Berkurangnya elastisitas akibatnya dari menurunya cairan dan vaskularisasi dan kuu jari menjari keras dan rapuh.
12.     Sistem Muskulosletal
Tulang kehilangan desinty (cairan) dan makin rapuh. Pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas dan persendian membesar dan menjadi kaku. Dan serabut-serabut otot mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban otot-otot kram dan menjadi tremor .

2.3            Konsep Rematik
2.3.1      Pengertian Rematik
Menurut Endang Purwastuti (2009), Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan tulang atau jaringan penunjang sekitar sendi.
Menurut Arif Muttaqin (2008), Rematik merupakan suatu istilah tentang sekelompok penyakit (gabungan dari 100 penyakit) dengan manifestasi klinis berupa pembengkakkan jaringan sekitar sendi dan tendon, kelainan terutama terjadi pada sendi, penyakit rematik dapat pula mengenai ekstra artikular.
Menurut Aqila Smart (2010), Rematik adalah penyakit kelainan pada sendi yang menimbulkan nyeri dan kaku pada system Autoimun.
2.3.2      Penyebab Rematik
Faktor penyebab rematik yakni faktor usia, jenis kelamin, serta faktor genetik. Semakin bertambahnya usia, semakin tinggi resiko terkena rematik. Wanita lebih rawan terkena rematik dibandingkan pria, dengan faktor resiko 60%. Rematik yang terjadi pada orang dalam masa usia produktif disebabkan karena peradangan. Peradangan ini bisa karena asam urat atau sebab-sebab lain. Hal ini disebabkan karena hasil dari metabolisme purin yang tertimbun di persendian sehingga menyebabkan sakit di persendian (Muttaqin, 2008)
2.3.3      Tanda dan Gejala Rematik
1.         Keluhan sakit bahkan kadang disertai bengkak pada persendian, terutama sendi penumpu berat badan seperti sendi panggul, lutut, dan pergelangan kaki.
2.         Keluhan morning stiffness atau kaku pagi hari saat bangun tidur, disertai nyeri sendi dan bengkak yang membaik apabila sendi diistirahatkan, dan nyeri ini berlangsung sekitar 30-60 menit.
3.         Bengkak dan nyeri, umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) (Smart, 2010).
4.         Atralgia yaitu gejala yang ditemukan pada sendi,berupa pegal linu(Junaidi,2006)
2.3.4      Dampak Rematik
Penyakit rematik dapat menimbulkan kematian, tetapi sangat jarang terjadi dan biasanya telah diderita selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Yang paling ditakuti dari penyakit rematik adalah akan menimbulkan kecacatan baik ringan seperti kerusakan sendi maupun berat seperti kelumpuhan. Hal ini mungkin akan menyebabkan berkurangnya kualitas hidup seseorang yang berakibat terbatasnya aktivitas dan terjadinya depresi (Smart, 2010).dampak dari rematik juga menimbulkan kegagalan organ bahkan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta Resiko tinggi akan terjadinya cidera(Kisworo, 2008)
2.3.5      Penatalaksanaan Rematik
1.         Terapi Medis
Berikut ini adalah obat-obatan yang biasa diberikan dokter untuk pengobatan penyakit rematik :
a.          Golongan Analgesic (penghilang rasa nyeri)
Obat golongan ini dapat menekan prostaglandin yang menjadi penyebab timbulnya peradangan namun disisi lain obat ini dapat menimbulkan gangguan lambung.
b.         Celecoxib adalah obat yang lebih spesifik dan memiliki efek samping yang lebih kecil terhadap lambung.
c.          Golongan obat kortikosteroid digunakan sebagai obat anti peradangan. Obat ini menekan sistem kekebalan tubuh sehingga reaksi radang pada rematik berkurang.
2.         Senam Rematik
Senam rematik merupakan metode senam yang dapat membantu mengurangi resiko timbulnya rematik yang sekaligus berfungsi sebagai terapi tambahanbagi penderita rematik dalam fase tenang. Terapi senam ini adalah program olah raga ringan yang terdiri dari beberapa tahapan seperti pemanasan, latihan inti satu (low impact untuk menguatkan kerja jantung dan paru-paru), latihan inti dua (latihan dasar pencegahan dan terapi rematik), dan pendinginan. Dengan melakukan latihan ini secara teratur, diharapkan dapat mengurangi gejala kekakuan sendi dan nyeri pada rematik (Smart, 2010).
3.         Terapi Pemijatan
Terapi ini sering di pilih oleh sebagian besar orang untuk menghilangkan rasa pegal dan linu yang juga dapat melancarkan peredaran darah. Sebenarnya manfaat pemijatan bukan hanya itu, pemijatan juga berfungsi untuk mengobati rematik. Jenis pemijatan yang dapat digunakan untuk mengobati rematik adalah jenis chiropractic. Jenis terapi pemijatan ini menggunakan teknik terapi jasmani yaitu perpaduan antara gerakan pijat spesifik, massage, dan jenis gerakan pijat yang dapat mengatasi masalah tulang dan syaraf (Smart, 2010)

2.4            Konsep Penangan
Penanganan adalah penyelesaian atau serangkaian proses pekerjaan (Febianto, 2008).
2.4.1    Penanganan Rematik
1.         Terapi panas dan dingin.
Terapi ini terbagi menjadi dua  macam, yaitu:
a.          Terapi panas superfisisial, misalnya mandi air hangat atau berdendam yang bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke sendi yang terserang rematik (Junaidi,2006)
b.         Terapi dingin, misalnya kompres dengan es yang bertujuan membuat baal bagian yang terkena rematik sehingga mengurangi nyeri,peradangan serta kaku/kejang otot(Junaidi,2006)
2.         Latihan fisik
Latihan fisik dilakukan dengan beberapa pola gerak dan ketentuan sebagai berikut:
a.       Latihan lingkup gerak sendi dan peregangan (stretching)
b.      Berjalan di alam terbuka, sepeda statis/dinamis, berjalan dalam air.
3.         Proteksi sendi, beberapa prinsip untuk memproteksi sendi antara lain:
a.       Pengaturan kerja
b.      Postur yang benar
c.       Mengurangi tekanan pada tubuh
d.      Hindari posisi lama dan statis.
Di bawah ini beberapa posisi dan gerak tubuh yang baik:
1.         Berdiri dan berjalan dengan badan tegak
2.         Leher harus dibiasakan latihan peregangan dan penguatan otot, jangan membiasakan gerakan leher yang cepat dan mendadak ke segala arah
3.         Hindari bantal yang tebal dan posisi tidur dengan leher tertunduk.
4.         Hindari duduk di kursi rendah dan tumpang kaki, jongkok, dan terlalu sering naik turun tangga (Smart, 2010)/
Selain itu, penanganan rematik  juga bisa dilakukan dengan cara menemui tenaga kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat sehingga bisa dicapai kesembuhan yang maksimal, sangat tidak dianjurkan bagi penderita rematik untuk mengobati sendiri penyakit rematiknya dengan cara menggunakan obat yang kurang tepat atau mencampur-campur obat yang dibeli di toko-toko jamu atau obat yang tidak memiliki ijin resmi (Sumariyono, 2007). 



2.5            Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah Jawaban sementara dari suatu penelitian atau patokan duga atau dalil sementara(Notoatmodjo, 2010)
H0 :   Tidak ada hubungan antara pengetahuan lansia tentang rematik dengan   penanganan lansia terhadap penyakit rematik
H1 :   Ada hubungan antara pengetahuan lansia tentang rematik dengan penanganan lansia terhadap rematik.





                                                                 

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1            Jenis Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab riset question (pertanyaan penelitian) dan untuk mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses riset (Nursalam, 2003). Desain dalam penelitian ini adalah Analitik Korelasi dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran/observasi data variabel dependen dan independen hanya satu kali, pada satu saat (Nursalam, 2003)
Pada penelitian ini peneliti melakukan observasi atau pengukuran  variabel pada satu saat. Artinya subjek hanya diobservasi satu kali saja dan pengukuran variabel subjek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut (Sastroasmoro dan Ismael, 1995).










3.2            Kerangka Kerja
Kerangka kerja atau kerangka operasional adalah langkah dalam aktivitas ilmiah mulai dari penetapan populasi, sample, dan seterusnya yaitu kegiatan sejak awal penelitian (Nursalam,2003)
Bagan 3.1 Kerangka penelitian
 








































3.3            Sampling Desain
3.3.1      Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Nursalam, 2001) Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang  berusia 60-90 tahun yang tinggal di Rw. 03 Kelurahan Pandanwangi sejumlah 25 responden.
3.3.2      Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih dengan sampling tertentu untuk bisa memenuhi atau mewakili populasi (Nursalam, 2001). Sampel dari penelitian ini adalah lansia yang mengalami rematik di Rw. 03 Kelurahan Pandanwangi sejumlah 25 responden.
3.3.2.1 Kriteria inklusi
Krireria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target  yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2008). Hasil inklusi adalah:
1.         Semua lansia yang menderita rematik di rw 03 kelurahan Pandanwangi.
2.         Semua lansia yang berusia 60- 90 th di rw 03 kelurahan Pandan wangi
3.         Semua lansia yang bersedia menjadi responden.
3.3.2.2 Kriteria eksklusi
 Kriteria eksklusi adalah menghilangkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena beberapa sebab (Nursalam, 2008). Hasil eksklusi adalah:   
1.    Lansia yang menolak menjadi responden.
3.3.3      Sampling
Sampling adalah Suatu proses dalam penyelesaian porsi populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2001). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Total sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan mengambil anggota populasi semua menjadi sample. (Alimul H, Aziz: 2007).
Dalam penelitian ini obyek yang diteliti semua lansia yang menderita rematik di Rw 03 Kelurahan Pandan Wangi sejumlah 25 orang lansia.

3.4        Tempat Dan Waktu Penelitian
3.4.1      Tempat penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di Rw 03 kelurahan Pandanwangi Kota Malang.
3.4.2      Waktu penlitian
Penelitian ini dilakukan tanggal 15 s/d 21 September 2011.

3.5    Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya  (Sugiyono, 2010).
3.5.1      Variabel Independent
Variabel independent ini sering disebut juga sebagai variabel stimulus, prediktor, antecendent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel independent atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (variabel terikat) (Sugiyono, 2010). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan lansia tentang rematik.
3.5.2      Variabel Dependent
Variabel dependent sering disebut juga sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia sering disebut variabel terikat. Variabel dependent atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen atau variabel bebas (Sugiyono, 2010). Variabel dependent atau variabel terikat dalam penelitan ini adalah penanganan rematik pada lansia.

3.6            Definisi Operasional
Definisi operasianal adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2008).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel
Definisi Operasional
Parameter
Alat
Skala
Skor
Pengetahuan Lansia tentang Rematik












segala sesuatu yang diketahui dan di pahami oleh lansia (usia 60-90 tahun) tentang Rematik.








Semua lansia yang   dapat menjawab pertanyaan dengan benar:
1.     Pengertian Rematik
2.     Penyebab Rematik
3.     Tanda dan Gejala Rematik
4.     Dampak Rematik
5.     Penatalaksaan Rematik
Kuesioner












Ordinal












Skor :
1   :   bila jawaban benar
0   :   bila jawaban salah

 -  Baik :
       76-100%
-   Cukup baik :
       56-75%
-   Kurang baik:    
       £ 56%

Variabel
Definisi Operasional
Parameter
Alat
Skala
Skor
Penanganan lansia terhadap Rematik.

Penyelesaian suatu pekerjaan oleh lansia terhadap penyakit rematik
Lansia yang melakukan penanganan rematik dengan benar:
1.     Terapi panas dingin
2.     Latihan fisik
3.     Proteksi sendi
Kuesioner

Ordinal

Skor:
Ya      = 1
Tidak = 0

 -  Baik :
       76-100%
-   Cukup baik :
       56-75%
-   Kurang baik:    
         £ 56%

3.7            Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah Suatu alat atau Fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,dalam arti cepat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah(Arikunto, 2006)
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk variabel independen adalah kuesioner tertutup. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang telah disusun untuk memperoleh data sesuai yang diinginkan peneliti. Pada kuesioner tertutup, jawaban sudah disediakan sehingga responden hanya memilih sesuai dengan pendapatnya (Wasis, 2008).
Untuk variabel independen soal berupa angket atau kuesioner tertutup, artinya responden tinggal-memilih atau memberi tanda silang (x) pada jawaban yang menurut responden benar. Soal terdiri dari 10 pertanyaan pilihan ganda. Sedangkan untuk variabel dependen instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan. Responden tinggal memilih atau memberi tanda silang (√) pada jawaban yang dipilh responden. Instrument yang baik harus memenuhi 2 persyaratan penting yaitu : valid dan reliable
1.         Validitas
Validitas adalah indeks yang menunjukkan alat ukuritu benar benar mengukur apa yang di ukur(Notoatmodjo,2010). Sebuah instrument dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan. Tinggi rendahnya validitas instrument menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.Uji validitas menggunakan rumus korelasi product moment, yaitu :
Keterangan :
X      =   pertanyaan nomor
Y      =   skor total
XY   =   skor pertanyaan nomor dikali skor total
Perhitungan rumus tersebut dilakukan dengan menggunakan program SPSS. Bila hasil perhitungan ( r hitung ) lebih besar dari r tabel maka instrumen dinyatakan valid (Arikunto,  2006 ).
2.         Reliabilitas
Reliabilitas adalah Indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan(Notoatmodjo,2010). Instrumen yang baik tidak bersifat tendensus mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Sehingga instrumen yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.Uji reliabilitas menggunakan rumus alpha, yaitu :
Keterangan  :
α            =     reliabilitas instrument
k         =     banyaknya butir pertanyaan
σ   =     jumlah varian butir
σ1²         =     varian total
Perhitungan rumus tersebut dengan menggunakan program SPSS, bila hasil perhitungan semakin mendekati angka 1, maka instrumen dikatakan reliabel. Dikatakan reliabel bila  a   > 0,60   (Arikunto, 2003).

3.8            Teknik Pengumpulan Data dan Analisa Data
3.8.1      Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan (angket) atau daftar isian terhadap obyek yang diteliti (populasi atau sampel) (Hasan, 2004). Dalam melaksanakan penelitian, awalnya setelah peneliti mendapatkan surat ijin dari kampus stikes kendedes malang lalu dilanjutkan ke kesbanglinmas Kota Malang, setelah itu  ke dinas kesehatan kota Malang dan dilanjutkan ke Kelurahan Pandanwangi kemudian ke puskesmas Pandanwangi.di Puskesmas pandan wangi peneliti  mendapatkan data  tentang lansia yang menderita rematik serta mengumpulkan data dengan cara membagikan kuesioner baik untuk variabel independen maupun variabel dependen kepada Lansia yang menderita rematik di Rw.03 Kelurahan Pandanwangi. Namun sebelum peneliti membagikan kuesioner, peneliti terlebih dahulu memberikan informed consent  pada responden.Pengumpulan data akan dilaksanakan selama ± 1 minggu, pengumpulan data dimulai dengan pengisian kuesioner I lalu kuesioner II oleh responden, masing-masing selama ± 30 menit dan didampingi oleh peneliti.
3.8.2      Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan, diolah terlebih dahulu dan kemudian disajikan.  Pengolahan data bertujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam statistika, informasi yang telah diperoleh dipergunakan untuk proses pengambilan keputusan, terutama dalam pengujian hipotesis (Wasis, 2008). Pengolahan data dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1.         Editing
Adalah pengecekan atau pengkoreksian data yang telah dikumpulkan karena  kemungkinan data yang masuk atau data terkumpul  tidak logis dan  meragukan (Iqbal, 2006). Pada penelitian ini, editing dilakukan dengan mengoreksi data umum dan kelengkapan jawaban dari kuesioner.
2.         Coding
Adalah pemberian (pembuatan kode-kode) pada tiap-tiap data yang telah dikumpulkan yang termasuk dalam kategori yang sama (Iqbal Hasan, 2006). Untuk variabel independent coding dilakukan dengan memberi tanda jawaban responden yang benar. Sedangkan untuk  variabel dependent dilakukan coding dengan memberi tanda check list (√) pada waktu lansia melakukan penanganan penyakit rematik.
3.         Scoring
Adalah pemberian skor penelitian setelah data terkumpul (Arikunto, 2003). Setelah kuesioner dikumpulkan kemudian dilakukan pemberian skor atau nilai data dengan bobot sesuai dengan yang telah dilakukan.
-      Pada variabel independen yaitu:
Nilai 1 : bila jawaban benar
Nilai 0 : bila jawaban salah
-      Pada variabel dependen yaitu :
Nilai 1 : bila jawaban ya.
Nilai 0 : bila jawaban tidak.
a.          Variabel Independen
Dianalisa secara deskriptif yaitu hasil dari jawaban responden jumlah dan dibandingkan dengan jumlah jawaban yang diharapkan kemudian dikalikan dengan 100%, dengan rumus :
                                                                            
     
Keterangan :
N    :   Nilai yang diperoleh
SP   :   Nilai yang didapat dari responden
SM  :   Skor tinggi maksimal
Hasil prosentase dari pengolahan data di atas diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria kuantitatif sebagai berikut :
-         Pengetahuan Baik       :  76-100%
-         Pengetahuan cukup     :   56-75%
-         Pengetahuan Kurang   :   <56%  (Arikunto, 2003)
b.         Variabel Dependent
Cara yang digunakan untuk menetapkan skor yaitu apabila masyarakat lansia pada usia 60-90 tahun pada pertanyaan “ya” akan mendapat skor 1 dan bila menjawab “tidak” akan mendapat skor 0.Cara yang digunakan untuk menetapkan skor yaitu jumlah dari skor masing-masing item (pertanyaan) dibagi jumlah dari skor item total dikalikan 100%, dengan menggunakan rumus :
                       
Hasil prosentase dari pengolahan data di atas ditafsirkan dalam skala kualitatif dengan menggunakan skala (Nursalam, 2003) :
-         Penanganan baik          :   76-100%
-         Penanganan cukup       :   56-75%
-         Penanganan kurang     :   >56%




4.         Tabulating
Adalah membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberikan kode sesuai dengan yang dianalisis (Hasan, 2004). Pada penelitian ini tabulating yang digunakan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
3.8.3      Analisa Data
Merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan di mana tujuan penelitian adalah menjawab pertanyaan penelitian dalam mengungkapkan fenomena (Nursalam, 2003). Hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dilakukan uji statistik yaitu Korelasi Spearman.
                                                                                                                 
Keterangan :
      rs    :  nilai korelasi Spearman Rank
      d2   :  selisih setiap pasangan Rank
      n   :  jumlah pasangan Rank untuk Spearman (5 < n < 30)
Untuk menguji dan menganalisa hipotesis dengan datanya berbentuk ordinal digunakan Uji Spearman Rank. Hasilnya dilihat dan dibandingkan  dengan t hitung jika hasilnya lebih besar dari t table
Maka H1 diterima dengan kriteria :  jika τ hitung > τ tabe
3.9            Etika Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi subjek penelitian adalah manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya, sehingga penelitian yang akan dilaksanakan akan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan manusia.Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Setelah pembimbing memberikan persetujuan untuk dilakukan penelitian maka peneliti akan mempersiapkan kelengkapan administrasi berupa perizinan dari Ketua RW 03 Desa Pandanwangi untuk melakukan penelitian, prosedur selanjutnya maka peneliti mengadakan penelitian dengan menekankan kepada masalah etika penelitian yang meliputi:
3.9.1        Informed Consent (lembar persetujuan)
    Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian yang diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika responden bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak responden.
3.9.2        Anonimity (Tanpa Nama)
    Anonimity berarti tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

3.9.3        Confidentiality (Kerahasiaan)
    Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar